Pagi itu, di halte bus, Ivander tengah menunggu bus sekolah untuk menjemputnya. Di saat dia sedang menunggu, seorang anak perempuan dengan blazer hitam dan rok hitam berjalan menuju ke halte bus juga. Gadis itu tampaknya satu sekolah dengannya. Rambutnya cokelat dan bergelombang yang diikat dengan gaya panglima-panglima China di film-film. Dia juga mengenakan penjepit rambut bunga Nigella.
“Cantik sekali!” gumam Ivander. Anak itu berjalan
didekatnya lalu duduk disampingnya. Dia menoleh kearah anak laki-laki yang
berada disampingnya.
“Halo, namaku Zelyn! What is your name ( siapa namamu
)?” tanya gadis yang Bernama Zelyn itu.
“Namaku Ivander. Kamu anak pindahan ya? Aku tak pernah
melihatmu. Dimana kamu sekolah?” tanya Ivander tersenyum.
“Iya, aku anak pindahan dari Jerman. Aku sekolah di
Science Elementary School. Sekolah terkenal di sini” kata Zelyn.
“Wah, aku juga sekolah di situ. Kamu kelas 6?” tanya
Ivander lagi.
“Iya, aku kelas 6” jawab Zelyn lembut. Tak lama, bus
sekolah datang dan menjemputnya. Ivander mengajak Zelyn pergi Bersama.
Bus mulai berjalan menuju sekolah. Di dalam bus, Ivander dan Zelyn saling
bercerita. Mereka berbagi pengalaman mereka masing-masing. Sampai pada
pembicaraan tentang sosial media,
“Eh, kamu punya Tiktok ya? Namanya itu -IvanderZaghootSinnoh.
CCle, iya kan?” tanya Zelyn.
“Iya, kamu tahu darimana?” tanya Ivander terkejut.
“Aku sering melihatnya. Aku suka, Tiktok kamu membahas
tentang percobaan gitu ya? Aku selalu mencontohnya. Hehehe…lumayan, sambil
belajar juga” kata Zelyn antusias.
“Iya, setiap kali kamu like, aku selalu
penasaran. Siapa dia, habis itu, aku melihat profilmu. Profil kamu itu foto
saat kamu di Selandia Baru ya?” tanya Ivander lagi.
“Iya, aku saat itu sedang berlibur ke Selandia Baru”
kata Zelyn lembut.
“Oh iya, liburan kemarin, kamu pergi kemana?” tanya
Zelyn lagi.
“Aku ada pergi ke Afrika Selatan. Singapuranya Afrika”
kata Ivander.
“Singapuranya Afrika?” Zelyn kebingungan memahami
perkataan sahabat barunya itu.
“Iya, itu adalah julukan untuk negri Afrika Selatan
yang terkenal dengan keindahannya” kata Ivander.
“Ini sudah mau dekat dengan hari libur musim semi.
Bagaimana kalau kita berlibur ke suatu tempat Bersama-sama?” tanya Ivander.
“Boleh! Eh, disekolah ada pelajaran apa saja?” tanya
Zelyn yang penasaran.
“Ada pelajaran utama, Sejarah, IPA, Matematika, dan
Bahasa Inggris. Sedangkan yang lain itu ada Seni, dan Geografi” terang Ivander
lalu dia melihat ke luar jendela.
“Kita sudah sampai. Ayo turun!” ajak Ivander. Ivander
dan Zelyn berterimakasih pada bapak supir lalu turun dan menuju sekolah.
“Halo teman-teman!” sapa Ivander pada teman-temannya.
“Halo, eh, siapa itu?” tanya salah seorang teman
Ivander yang Bernama Noah.
“Dia anak baru di kelas kita. Sudah bunyi bel. Kenapa
kalian tidak masuk?” tanya Ivander.
“Kami disuruh untuk membersihkan halaman. Kalian
berdua masuk saja ke kelas” kata teman Ivander yang lain. Ivander mengangguk
lalu mengajak Zelyn ke kelas.
Di kelas, kemudian, terjadilah saling kenal dengan anak
baru. Ms. Elinoor, guru Matematika, menyuruh Zelyn maju dan memperkenalkan
diri.
“Halo semuanya. Saya Elenora Elrezensha Zohannez
Zelyn. Panggil saja Zelyn” kata Zelyn memperkenalkan diri. “Saya anak pindahan
dari Jerman” sambungnya.
“Terimakasih Zelyn, sudah memperkenalkan diri. Baiklah
anak-anak, ayo keluarkan spidol kalian dan jawab soal Matematika di depan” kata
Ms. Elinoor. Ms. Elinoor kemudian membuat soal di papan tulis lalu menyuruh
satu persatu anak yang dipanggil untuk maju dan menjawab soal.
“Nomor 1, a+B2 -Q. Ok, Ivander, tolong maju dan jawab
soal ini” kata Ms. Elinoor. Ivander maju dan menjawab soal itu dengan benar.
“Bagus Ivander. Nomor 2, C=O + P-1V. Zelyn, tolong
maju dan jawab soal nomor 2” Ms. Elinoor menyuruh Zelyn. Dan Zelyn juga
menjawabnya dengan benar.
“Hebat Zelyn. Sekarang buka buku halaman 990” perintah
Ms. Elinoor lalu semua anak membuka buku dan belajar dengan tertib.
Tingtong! Bel berbunyi. Tanda waktu istirahat telah
tiba. Ivander dan Zelyn berjalan menuju kantin. Ivander menyuruh Zelyn duduk
lalu Ivander pergi untuk membeli jajan. Alangkah terkejutnya Zelyn saat Ivander
Kembali. Dia membeli 2 smoothies berry.
“Ini untukmu dan untukku!” kata Ivander sambil
menyerahkan smoothie itu pada Zelyn. Dia juga menyerahkan semangkuk es untuk
ditambah kalau misalkan smoothie-nya kurang dingin. Zelyn kemudian mengucapkan
terimakasih. Ivander tersenyum dan mengangguk.
“Dingin sekali!” gumam Zelyn sambil memegang
tangannya.
“Apa smoothie-nya terlalu dingin?” tanya Ivander. “Ah,
tidak terlalu!” kata Zelyn dengan senyumnya yang mengembang.
“Makasih ya. Jadi merepotkan kamu nih” ujar Zelyn
sungkan. Dia merasa tidak enak hati pada sahabatnya.
“Don’t worry ( jangan khawatir ) Zelyn. Ini hal yang
biasa bagiku” kata Ivander.
“Nanti sore, aku bertanding bola. Klub sepak bola kami
didaftarkan dalam perlombaan sepak bola Nasional. Kami akan melawan klub First
City Manchresther F.C. Kamu mau menontonku?” tanya Ivander sambil memegang
tangan kanan Zelyn. Zelyn yang terkejut tak bisa berkata. Dia bingung hendak
berkata apa. Ivander yang tersenyum kemudian mengulangi pertanyaannya dan Zelyn
pun menjawab,
“Aku mau menontonmu nanti sore!” kata Zelyn
mengangguk. Senyum malu-malunya tak tertahankan. Ivander tersenyum gembira.
Jam demi jam berlalu. Kini, jam masuk kelas kedua
telah tiba. Semua murid masuk kelas dan belajar dengan tenang. Begitupun dengan
Ivander dan Zelyn.
Sepulang sekolah, Ivander dan Zelyn saling tersenyum
sendiri. Kenapa? Ada apa dengan mereka?
Setibanya di rumah, Ivander sudah makan siang, dan
setelah itu tidur siang. Sorenya, dia mandi lalu mengenakan baju bolanya dan
mempersiapkan segala sesuatunya.
Setelah siap, diapun berangkat ke lapangan. Di sisi
lain, Zelyn yang sudah mandi mulai bersiap-siap. Dia mengenakan baju biru dan
rok cokelat. Rambutnya digerai dengan indah. Setelah itu, dia mengisi botol
favoritya dengan air sirup Blueberry kesukaannya lalu pergi ke lapangan.
Di lapangan, telah ramai orang-orang yang hendak
menonton pertandingan. Zelyn juga sudah tidak sabar.
Setelah 20 menit persiapan strategi, pertandingan pun
dimulai. Ivander memulai penyerangan dan tendangan yang mematikan. Zelyn sangat
suka dengan cara operan Ivander yang dianggapnya di atas rata-rata. Selama ini,
dia tidak pernah melihat operan sekeren itu.
Lanjut dengan teman setim bolanya yang diteckel oleh
tim lawan. Pemain yang lain mengambil bola itu dan mengoperkannya pada Ivander
yang dalam posisi siap. Kapten tim Gayzon Barbarez F.C. itu kemudian melesat
menuju gawang. Ivander mengambil ancang-ancang dan golllllll! Penonton bersorak
sorai. Zelyn bertepuk tangan. Ivander melakukan selebrasi diikuti
teman-temannya.
Pertandingan berlanjut. Kedua tim tidak ada yang lebih
unggul. Semuanya seimbang. Hingga suatu saat,
BRUK! Ivander terjatuh dengan keras karena di teckel
oleh pemain dari kapten tim lawan, Gretiano. Kejatuhan itu sedikit berakibat
fatal. Ivander sedikit terkilir.
“Pelanggaran! Kartu kuning, tendangan penalti!” seru
wasit. Ivander meskipun pincang, dia tetap melakukan tendangan. Dia mengambil
ancang-ancang, lalu menendang dan gooooool! Gol kedua berhasil didapatkan.
Ivander disambut dengan senyuman lebar dari wajah-wajah teman yang memberinya
semangat. Karena senyuman itu, kakinya tiba-tiba tidak sakit lagi. Ivander
melihat para penonton. Dia mencari Zelyn. Ketika menemukan Zelyn, Ivander
melambaikan tangan dan tersenyum senang karena Zelyn bertepuk tangan dengan
senyumnya yang lebar.
Wasit meniup peluit tanda waktu pertandingan sudah
habis. Semua pemain bubar dan boleh melakukan aktivitasnya masing-masing.
Zelyn melihat Ivander. Dia memanggilnya,
“Ivander! Aku disini!” seru Zelyn memanggil
sahabatnya.
“Zelyn!” seru Ivander. Dia menghampiri Zelyn dan
berkata,
“Kupikir kamu tidak datang” kata Ivander sambil
tersenyum hangat.
“Tidak, aku datang. Bagaimana dengan kakimu?” tanya
Zelyn yang khawatir terjadi sesuatu.
“Tidak sakit lagi. Ayo kita pulang Bersama!” ajak
Ivander. Dia mengambil tasnya lalu berjalan pulang Bersama sahabatnya.
“Menurutmu, kita akan liburan kemana?” tanya Ivander.
“Bagaimana kalau ke Wellington, atau kita ke kota
Quebec?” tanya Zelyn memberi usul.
“Bagaimana kalau kita ke Sydney? Aku baru dapat
hadiah. Hadiah pergi ke Sydney Bersama 1 orang teman. Bagaimana kalau kita ke
Sydney saja?” tanya Ivander menawarkan.
“Ide yang sangat bagus!” kata Zelyn sambil
menjentikkan jari.
“Kenapa kamu mendapat hadiah itu?” tanya Zelyn.
“Karena aku baru selesai mendapat juara 1 lomba
badminton” kata Ivander menjelaskan.
“Wah! Kamu keren!” Zelyn tersenyum dan bertepuk
tangan.
“Ah, terimakasih” Ivander tersenyum malu.
“Ok, berarti tujuan kita ke kota Sydney” senyum
Ivander.
“Baiklah, kita berpisah disini! Good bye!” Ivander
melambaikan tangan. Zelyn ikut melambaikan tangan.
Posting Komentar untuk "Persahabatan I dan Z, Episode 1: Zelyn, Beutiful Girl"