Persahabatan I dan Z, Episode 1: Zelyn, Beutiful Girl

fani afnan jannati

Pagi itu, di halte bus, Ivander tengah menunggu bus sekolah untuk menjemputnya. Di saat dia sedang menunggu, seorang anak perempuan dengan blazer hitam dan rok hitam berjalan menuju ke halte bus juga. Gadis itu tampaknya satu sekolah dengannya. Rambutnya cokelat dan bergelombang yang diikat dengan gaya panglima-panglima China di film-film. Dia juga mengenakan penjepit rambut bunga Nigella.

“Cantik sekali!” gumam Ivander. Anak itu berjalan didekatnya lalu duduk disampingnya. Dia menoleh kearah anak laki-laki yang berada disampingnya.

“Halo, namaku Zelyn! What is your name ( siapa namamu )?” tanya gadis yang Bernama Zelyn itu.

“Namaku Ivander. Kamu anak pindahan ya? Aku tak pernah melihatmu. Dimana kamu sekolah?” tanya Ivander tersenyum.

“Iya, aku anak pindahan dari Jerman. Aku sekolah di Science Elementary School. Sekolah terkenal di sini” kata Zelyn.

“Wah, aku juga sekolah di situ. Kamu kelas 6?” tanya Ivander lagi.

“Iya, aku kelas 6” jawab Zelyn lembut. Tak lama, bus sekolah datang dan menjemputnya. Ivander mengajak Zelyn pergi Bersama.

Bus mulai berjalan menuju sekolah.  Di dalam bus, Ivander dan Zelyn saling bercerita. Mereka berbagi pengalaman mereka masing-masing. Sampai pada pembicaraan tentang sosial media,

“Eh, kamu punya Tiktok ya? Namanya itu -IvanderZaghootSinnoh. CCle, iya kan?” tanya Zelyn.

“Iya, kamu tahu darimana?” tanya Ivander terkejut.

“Aku sering melihatnya. Aku suka, Tiktok kamu membahas tentang percobaan gitu ya? Aku selalu mencontohnya. Hehehe…lumayan, sambil belajar juga” kata Zelyn antusias.

“Iya, setiap kali kamu like, aku selalu penasaran. Siapa dia, habis itu, aku melihat profilmu. Profil kamu itu foto saat kamu di Selandia Baru ya?” tanya Ivander lagi.

“Iya, aku saat itu sedang berlibur ke Selandia Baru” kata Zelyn lembut.

“Oh iya, liburan kemarin, kamu pergi kemana?” tanya Zelyn lagi.

“Aku ada pergi ke Afrika Selatan. Singapuranya Afrika” kata Ivander.

“Singapuranya Afrika?” Zelyn kebingungan memahami perkataan sahabat barunya itu.

“Iya, itu adalah julukan untuk negri Afrika Selatan yang terkenal dengan keindahannya” kata Ivander.

“Ini sudah mau dekat dengan hari libur musim semi. Bagaimana kalau kita berlibur ke suatu tempat Bersama-sama?” tanya Ivander.

“Boleh! Eh, disekolah ada pelajaran apa saja?” tanya Zelyn yang penasaran.

“Ada pelajaran utama, Sejarah, IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris. Sedangkan yang lain itu ada Seni, dan Geografi” terang Ivander lalu dia melihat ke luar jendela.

“Kita sudah sampai. Ayo turun!” ajak Ivander. Ivander dan Zelyn berterimakasih pada bapak supir lalu turun dan menuju sekolah.

“Halo teman-teman!” sapa Ivander pada teman-temannya.

“Halo, eh, siapa itu?” tanya salah seorang teman Ivander yang Bernama Noah.

“Dia anak baru di kelas kita. Sudah bunyi bel. Kenapa kalian tidak masuk?” tanya Ivander.

“Kami disuruh untuk membersihkan halaman. Kalian berdua masuk saja ke kelas” kata teman Ivander yang lain. Ivander mengangguk lalu mengajak Zelyn ke kelas.

Di kelas, kemudian, terjadilah saling kenal dengan anak baru. Ms. Elinoor, guru Matematika, menyuruh Zelyn maju dan memperkenalkan diri.

“Halo semuanya. Saya Elenora Elrezensha Zohannez Zelyn. Panggil saja Zelyn” kata Zelyn memperkenalkan diri. “Saya anak pindahan dari Jerman” sambungnya.

“Terimakasih Zelyn, sudah memperkenalkan diri. Baiklah anak-anak, ayo keluarkan spidol kalian dan jawab soal Matematika di depan” kata Ms. Elinoor. Ms. Elinoor kemudian membuat soal di papan tulis lalu menyuruh satu persatu anak yang dipanggil untuk maju dan menjawab soal.

“Nomor 1, a+B2 -Q. Ok, Ivander, tolong maju dan jawab soal ini” kata Ms. Elinoor. Ivander maju dan menjawab soal itu dengan benar.

“Bagus Ivander. Nomor 2, C=O + P-1V. Zelyn, tolong maju dan jawab soal nomor 2” Ms. Elinoor menyuruh Zelyn. Dan Zelyn juga menjawabnya dengan benar.

“Hebat Zelyn. Sekarang buka buku halaman 990” perintah Ms. Elinoor lalu semua anak membuka buku dan belajar dengan tertib.

Tingtong! Bel berbunyi. Tanda waktu istirahat telah tiba. Ivander dan Zelyn berjalan menuju kantin. Ivander menyuruh Zelyn duduk lalu Ivander pergi untuk membeli jajan. Alangkah terkejutnya Zelyn saat Ivander Kembali. Dia membeli 2 smoothies berry.

“Ini untukmu dan untukku!” kata Ivander sambil menyerahkan smoothie itu pada Zelyn. Dia juga menyerahkan semangkuk es untuk ditambah kalau misalkan smoothie-nya kurang dingin. Zelyn kemudian mengucapkan terimakasih. Ivander tersenyum dan mengangguk.

“Dingin sekali!” gumam Zelyn sambil memegang tangannya.

“Apa smoothie-nya terlalu dingin?” tanya Ivander. “Ah, tidak terlalu!” kata Zelyn dengan senyumnya yang mengembang.

“Makasih ya. Jadi merepotkan kamu nih” ujar Zelyn sungkan. Dia merasa tidak enak hati pada sahabatnya.

“Don’t worry ( jangan khawatir ) Zelyn. Ini hal yang biasa bagiku” kata Ivander.

“Nanti sore, aku bertanding bola. Klub sepak bola kami didaftarkan dalam perlombaan sepak bola Nasional. Kami akan melawan klub First City Manchresther F.C. Kamu mau menontonku?” tanya Ivander sambil memegang tangan kanan Zelyn. Zelyn yang terkejut tak bisa berkata. Dia bingung hendak berkata apa. Ivander yang tersenyum kemudian mengulangi pertanyaannya dan Zelyn pun menjawab,

“Aku mau menontonmu nanti sore!” kata Zelyn mengangguk. Senyum malu-malunya tak tertahankan. Ivander tersenyum gembira.

Jam demi jam berlalu. Kini, jam masuk kelas kedua telah tiba. Semua murid masuk kelas dan belajar dengan tenang. Begitupun dengan Ivander dan Zelyn.

Sepulang sekolah, Ivander dan Zelyn saling tersenyum sendiri. Kenapa? Ada apa dengan mereka?

Setibanya di rumah, Ivander sudah makan siang, dan setelah itu tidur siang. Sorenya, dia mandi lalu mengenakan baju bolanya dan mempersiapkan segala sesuatunya.

Setelah siap, diapun berangkat ke lapangan. Di sisi lain, Zelyn yang sudah mandi mulai bersiap-siap. Dia mengenakan baju biru dan rok cokelat. Rambutnya digerai dengan indah. Setelah itu, dia mengisi botol favoritya dengan air sirup Blueberry kesukaannya lalu pergi ke lapangan.

Di lapangan, telah ramai orang-orang yang hendak menonton pertandingan. Zelyn juga sudah tidak sabar.

Setelah 20 menit persiapan strategi, pertandingan pun dimulai. Ivander memulai penyerangan dan tendangan yang mematikan. Zelyn sangat suka dengan cara operan Ivander yang dianggapnya di atas rata-rata. Selama ini, dia tidak pernah melihat operan sekeren itu.

Lanjut dengan teman setim bolanya yang diteckel oleh tim lawan. Pemain yang lain mengambil bola itu dan mengoperkannya pada Ivander yang dalam posisi siap. Kapten tim Gayzon Barbarez F.C. itu kemudian melesat menuju gawang. Ivander mengambil ancang-ancang dan golllllll! Penonton bersorak sorai. Zelyn bertepuk tangan. Ivander melakukan selebrasi diikuti teman-temannya.

Pertandingan berlanjut. Kedua tim tidak ada yang lebih unggul. Semuanya seimbang. Hingga suatu saat,

BRUK! Ivander terjatuh dengan keras karena di teckel oleh pemain dari kapten tim lawan, Gretiano. Kejatuhan itu sedikit berakibat fatal. Ivander sedikit terkilir.

“Pelanggaran! Kartu kuning, tendangan penalti!” seru wasit. Ivander meskipun pincang, dia tetap melakukan tendangan. Dia mengambil ancang-ancang, lalu menendang dan gooooool! Gol kedua berhasil didapatkan. Ivander disambut dengan senyuman lebar dari wajah-wajah teman yang memberinya semangat. Karena senyuman itu, kakinya tiba-tiba tidak sakit lagi. Ivander melihat para penonton. Dia mencari Zelyn. Ketika menemukan Zelyn, Ivander melambaikan tangan dan tersenyum senang karena Zelyn bertepuk tangan dengan senyumnya yang lebar.

Wasit meniup peluit tanda waktu pertandingan sudah habis. Semua pemain bubar dan boleh melakukan aktivitasnya masing-masing.

Zelyn melihat Ivander. Dia memanggilnya,

“Ivander! Aku disini!” seru Zelyn memanggil sahabatnya.

“Zelyn!” seru Ivander. Dia menghampiri Zelyn dan berkata,

“Kupikir kamu tidak datang” kata Ivander sambil tersenyum hangat.

“Tidak, aku datang. Bagaimana dengan kakimu?” tanya Zelyn yang khawatir terjadi sesuatu.

“Tidak sakit lagi. Ayo kita pulang Bersama!” ajak Ivander. Dia mengambil tasnya lalu berjalan pulang Bersama sahabatnya.

“Menurutmu, kita akan liburan kemana?” tanya Ivander.

“Bagaimana kalau ke Wellington, atau kita ke kota Quebec?” tanya Zelyn memberi usul.

“Bagaimana kalau kita ke Sydney? Aku baru dapat hadiah. Hadiah pergi ke Sydney Bersama 1 orang teman. Bagaimana kalau kita ke Sydney saja?” tanya Ivander menawarkan.

“Ide yang sangat bagus!” kata Zelyn sambil menjentikkan jari.

“Kenapa kamu mendapat hadiah itu?” tanya Zelyn.

“Karena aku baru selesai mendapat juara 1 lomba badminton” kata Ivander menjelaskan.

“Wah! Kamu keren!” Zelyn tersenyum dan bertepuk tangan.

“Ah, terimakasih” Ivander tersenyum malu.

“Ok, berarti tujuan kita ke kota Sydney” senyum Ivander.

“Baiklah, kita berpisah disini! Good bye!” Ivander melambaikan tangan. Zelyn ikut melambaikan tangan. 

Posting Komentar untuk "Persahabatan I dan Z, Episode 1: Zelyn, Beutiful Girl"