![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Di pagi hari yang cerah, Saniko masih disibukkan dengan tidurnya. Padahal, jam weker sudah berbunyi. Mama segera membangunkan Saniko.
“Saniko, ayo bangun, ini sudah pagi. Kamu akan terlambat ke sekolah,” mama menggoyangkan badan Saniko.
“Ah, mama, sekali saja aku tidak usah sekolah, yah?” tanya Saniko sambil menggeliat.
“Jangan jadi anak malas. Ayo, sudah jam setengah 7, adikmu sudah ke sekolah. Cepat!” mama segera membangunkan badan Saniko.
Saniko segera merapikan tempat tidur lalu mandi. Sebenarnya Saniko masih mengantuk. Dia mandi dengan setengah hati. Sebagian hatinya khawatir, dan sebagiannya lagi kesal. Saniko kesal karena dia tidak mau ke sekolah, sementara dia khawatir karena terlambat.
Saniko segera menyisir rambut cokelat merahnya. Lalu memakai penjepit bergambar susu. Dia segera menyambar bekalnya, lalu keluar rumah.
Dia segera menuju sekolahnya, SD Mikoyoshi Tagosako. Saniko duduk di kelas 5.
“Ohayou, Goshi, Nagaso!” ujar Saniko sambil menyapa kedua temannya.
“Ohayou, Saniko!” ujar kedua temannya serempak.
“Kalian sedang apa? Tampaknya, kalian bergembira sekali!” ujar Saniko ingin tahu.
“Iya, kita bertiga ditunjuk untuk berlatih bermain musik untuk pentas di Azerbaijan. Asyik!” ujar Goshi riang. Saniko tersenyum.
“Memangnya, kita kenapa pentas ke Azerbaijan?” tanya Saniko.
“Karena kita telah mendapat juara aikido kelas berat. Itu membuat sekolah kita terkenal di luar negeri. Kepala sekolah ingin memberikan hadiah untuk kita. Inilah hadiahnya,” ujar Nagaso panjang lebar sambil mengibaskan rambut pirangnya.
“Wah, mau, tapi, apakah kita meliburkan diri dari klub aikido dan klub golf?” tanya Saniko lagi.
“Itu benar!” kata Nagaso singkat.
“Baiklah!” ujar Saniko. Bel kelas berbunyi.
“Baiklah semuanya, besok kita libur 4 minggu karena musim gugur akan datang. Kecuali, bagi yang berlatih untuk pentas, ya, Nagaso, Goshi, dan Saniko!” ujar Moshiko-sensei.
“Baik, sensei!” ujar murid-murid serempak.
Bel sekolah berbunyi. Semua murid diperbolehkan istirahat. Saniko, Nagaso, dan Goshi pergi ke sebuah taman kecil di belakang sekolah. Mereka pergi ke sana karena tempatnya cukup indah dan nyaman. Mereka segera duduk lalu membuka kotak bekalnya.
“Wow, Takoyaki! Aku suka ini!” teriak Saniko girang.
“Aku bawa Teriyaki!” ujar Goshi.
“Aku bawa Ramen!” kata Nagaso. Mereka segera memakan bekal masing-masing.
Selesai makan, mereka menuju ruang pelatihan musik. Mereka telah izin untuk tidak masuk pada pelajaran jam kedua.
Mereka disambut oleh Yuzako-sensei. Yuzako-sensei menyambut mereka dengan ramah.
Belum lagi mereka masuk, Saniko melihat alat musik tradisional yang tidak biasanya. Untuk pelatihan ini, mereka memakai alat musik luar negeri, termasuk dari Indonesia. Saniko melihat Sasando, Saluang, dan Saron. Mereka tidak terbiasa melihat alat musik seperti itu.
“Ini apa, sensei?” tanya Nagaso.
“Itu Sasando dari Indonesia! Cara memainkannya dengan dipetik,” kata Yuzako-sensei.
“Petik? Memang, kita petik buah dari Sasando? Sasando itu kan alat musik,” kata Saniko heran. Meledaklah tawa di ruang itu.
“Bukan Saniko! Sasando itu dimainkan dengan dipetik! Bukan petik buah Sasando!” kata Goshi tertawa terbahak-bahak.
“Oh, begitu! Maaf, ya!” ujar Saniko malu.
“Nah, kalau ini Saron, Saron dimainkan dengan dipukul!” kata Yuzako-sensei.
“Oh, tapi sensei, mengapa alat musik tradisional luar negeri, sensei? Bukannya, saat pentas kemarin itu pakai alat musik tradisional Jepang, kan?” tanya Goshi bingung.
“Agar lebih istimewa, Goshi! Sambil menunggu guru kalian datang, makan ini dulu!” kata Yuzako-sensei sambil menyajikan 3 mangkuk ramen.
“Thanks! It is good!” kata Saniko sambil mengambil sumpit lalu menyeruput ramennya.
“Perasaan, aku tadi baru selesai makan ramen,” bisik Nagaso pada Saniko dan Goshi. Mereka berdua terkekeh.
Beberapa menit kemudian, guru mereka datang. Yuzako-sensei mengenalkan guru tersebut sebagai guru yang mengajar musik di universitas terkenal di Osaka. Namanya Mikuyo Shakowby University. Mereka bertiga memandang guru tersebut dengan berbinar.
“Nah, nama saya Mishagoushy Makadanako, panggil saja Misha,” ujar guru yang bernama Misha tersebut.
“Baik, sensei!” ujar mereka bertiga serempak.
Mereka segera menuju alat musik masing-masing. Saniko memainkan Saluang, Nagaso memainkan Sasando, dan Goshi memainkan Saron. Mereka bertiga mulai berlatih musik.
Masalah bagi mereka bertiga adalah, kalau tidak bisa, mereka dimarahi. Hari ini, mereka latihan 10 kali. Tangan dan mulut mereka sangat pegal. Akhirnya, mereka pulang jam setengah 2.
“Hii, gurunya seram banget!” ujar Nagaso sampai di kelas untuk mengambil tas.
“Bagaimana caranya supaya kita tidak akan dimarahi lagi kalau latihan, ya?” kata Saniko.
“Bagaimana kalau kita berlatih di rumahku? Kakakku punya koleksi alat musik, kita latihan di rumahku sore ini, begitupun seterusnya. Nanti, di sekolah, karena kita sudah latihan, kita tidak akan capek lagi! Bagaimana?” kata Goshi panjang lebar.
“Usulan yang bagus!” kedua temannya setuju. Mereka segera pulang ke rumah.
“Tadaima, Mama!” kata Saniko sambil melepas sepatunya.
“Eh, Saniko sudah pulang!” kata mama. Rupanya, mama sedang memasak.
“Mama masak apa?” tanya Saniko.
“Mama memasak tomyam!” ujar mama.
“Oh, begitu. Ma, sore, boleh enggak aku ke rumah Goshi? Kami mau berlatih musik di sana. Enggak lama kok!” kata Saniko.
“Nanti pasti lama, jangan Ma!” Tiba-tiba, kedua adik perempuan Saniko memotong perkataan Saniko.
“Apa sih? Caper banget!” Saniko kesal.
“Apa sih Kakak ini? Kita kan cuma mau bermain, iya kan, Shokori?” tanya adik pertamanya Saniko, Houshi. Shokori mengangguk-angguk.
“Boleh kok!” kata mama lembut.
“Asyik! Makasih, Ma!” teriak Saniko girang. Dia masuk ke kamar dan memegang handphone-nya.
“Hei, Goshi! Aku diperbolehkan mamaku, loh!” ujar Saniko. Saniko voice note dengan Goshi. Namun, belum ada balasan, jadi Saniko makan terlebih dulu.
Sorenya, Saniko mengendarai sepedanya. Dia menuju rumah Goshi. Dia mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok! Seseorang keluar pintu. Rupanya, itu adalah kakaknya Goshi.
“Saniko! Ayo masuk!” kata kakaknya Goshi, yang bernama Sadoiko.
“Thanks, Kak! Goshinya ada?” tanya Saniko sambil melangkah masuk.
“Ya, ada, ayo. Kamu sedang berlatih musik dengan Nagaso dan Goshi, ya?” tanya Kak Sadoiko.
“Betul, Kak!” kata Saniko seraya tersenyum.


Posting Komentar untuk "Pengalaman 3 Sahabat - Bab 1: Berlatih"