Goshi sudah mengetahui kedatangan Saniko. Goshi membuka pintu. Saniko pun masuk. Dilihatnya Goshi dan Nagaso sedang asyik dengan handphone-nya. Mereka bermain Stick Games: A Sharks.
“Hai semua!” kata Saniko.
“Hai Saniko! Come on, we’re playing music!” kata Goshi dan Nagaso serempak.
“Ayo, segera ambil posisi kalian!” kata Kak Sadoiko.
Mereka segera berlatih musik didampingi kakaknya Goshi.
Setelah setengah jam, semua berterima kasih pada Goshi dan Kak Sadoiko. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Malamnya, di rumah, sambil menunggu masakan matang, Saniko asyik berlatih. Dia harus bisa memainkan saluang. Dia tidak peduli mulutnya pegal. Dia membiarkannya. Dia tidak menyadari kalau mamanya sedang menjemput papa Saniko di bandara.
Sesampainya mama di rumah, Saniko menghampiri mama. Saniko tertegun saat melihat isi kantong yang dibawa papa.
“Pa, itu apa?” tanya Saniko.
“Ini ada pukis dan sakura mochi!” kata papa.
“Thanks, Papa!” ujar Saniko senang. Saniko membawa tas papanya ke dalam.
Setelah masakan matang, mama menyajikannya di meja makan. Meja makan tersebut sangat panjang. Meja tersebut untuk para pembantu di rumah Saniko.
“Wow, it is good! Ini ada Zupa-Zupa Soup, ada dumpling dan chili oil, ada tortilla, ada pukis, dan sakura mochi! Wow!” kata Saniko girang. Dia segera menyendok semua yang ada di meja.
“Kakak rakus banget!” komentar Shokori. Saniko tidak peduli.
Selesai makan, Saniko segera ke kamar, dan karena kekenyangan, akhirnya dia tertidur sampai esok hari.
Esok paginya, Saniko merasa malas untuk pergi ke sekolah karena dia akan berlatih musik lagi hari ini. Saniko mandi lalu memakai baju pendek berwarna putih dan dasi dengan warna yang berselang-seling, biru dan kuning. Dia memakai rok biru selutut dan bando lingkar. Dia segera pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, dia melihat ke kelas. Rupanya, semua sudah masuk kelas dan dia terlambat.
“Saniko-san, mengapa kamu terlambat?” tanya gurunya.
“Aku sangat kecapaian, jadi aku tertidur sangat lama. Itu yang membuat aku terlambat,” kata Saniko.
Saniko disuruh membersihkan ruang kepala sekolah dan aula. Saniko menjadi kesal.
Selesai pembelajaran, Saniko mengenakan celana pendek sepaha, kaus merah tanpa lengan, dan dia menggerai rambutnya. Dia segera menuju ruang pelatihan musik.
Dia kemudian mengambil alat musiknya, lalu segera memainkannya. Tetapi, hasilnya sama. Dia kurang gigih untuk membuat suaranya dinikmati setiap orang. Di hatinya, terbesit sebuah kata-kata.
“Sesungguhnya, aku tahu, seberapa gigihnya aku agar aku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku mengerti, aku bukanlah siapa-siapa yang belum berusaha, sudah langsung bisa. Aku tahu, bahwa aku bukan anak sembarang, aku anak terdidik, aku akan menampakkan kemampuanku pada mereka, agar mereka tahu bahwa aku bukan anak yang tidak berpendidikan, laksana bangunan yang masih bagus dan masih dijaga. Apa yang aku dapatkan, itulah yang aku usahakan,” begitulah ucapan yang ada di hatinya.
“Ayo teman-teman, ikuti aba-aba dariku!” teriak Saniko.
Saniko segera memainkan saluang. Goshi dan Nagaso mengikuti Saniko. Saat selesai, Misha-sensei memuji mereka.
“Bagus! Sangat keren!” puji guru Saniko.
“Thanks, Sensei!” kata mereka bertiga serempak. Mereka segera pulang.
Di rumah, Saniko asyik memainkan saksofon miliknya. Terdengar suara merdu yang sangat indah.
Ting-tong! Bunyi bel rumah Saniko terdengar jelas. Saniko segera membuka pintu, lalu melihat orang yang telah memencet bel rumahnya. Rupanya, itu adalah pak pos.
“Thanks, Pak!” kata Saniko sambil mengambil surat.
“You’re welcome!” kata pak pos tersebut, lalu meninggalkan rumah Saniko.
Saniko melihat surat tersebut. Surat tersebut bertuliskan,
“Hai Saniko! Aku diberitahu guru les menyanyi untuk berkemas barang besok! Besok, sekolah libur, kita pergi ke bandara. Aku Goshi!”
Saniko sangat takjub dengan surat itu. Dia ingin meloncat girang, tetapi hal itu sangatlah konyol baginya.
Esoknya, dia berkemas barang. Setelah berpamitan, dia diantar pengemudi pribadinya ke Bandara El Banzoshy.
Dia segera turun. Dia melihat ada 2 anak perempuan. Satu rambut anak itu pirang, dan satunya lagi cokelat susu.
“Goshi, Nagaso!” teriak Saniko sambil menuju ke arah temannya. Goshi tersenyum.
“Hai Saniko! Wajahmu cerah sekali hari ini!” kata Nagaso sambil diam-diam memfotonya. Lalu dia mengirimkannya pada teman laki-laki Saniko.
“Iya nih, aku lagi bahagia banget! Always happy!” teriak Saniko senang.
“Anak-anak, sudah waktunya kita check-in,” panggil Misha-sensei.
“Baik, Sensei!” Mereka bertiga segera menuju Misha-sensei.
Mereka segera mengecek kartu, lalu menunggu di ruang tunggu. Setelah beberapa menit, pesawat yang mereka tunggu sudah datang. Mereka berbondong-bondong menaiki pesawat. Mereka memilih kursi di belakang. Untuk alat musik, alat itu dibawa oleh Misha-sensei untuk pelatihan mereka selama di Azerbaijan.
Pesawat mulai terbang. Saniko cepat-cepat memasang pengamannya. Pesawat pun terbang. Tiga bestie ini merasa seolah mereka terbang. Tanpa mereka sadari, makanan sudah tersedia di depan mereka.
Mereka melihat makanan yang tersaji di depan mereka. Baunya harum sekali. Setelah makan, mereka segera menonton. Film yang diputar adalah The Grade For a School.
Dua hari mereka di jalan, akhirnya, mereka sampai di Azerbaijan. Saniko merasa lelah. Dia ingin segera beristirahat. Mereka harus menaiki taksi untuk sampai ke hotel tempat mereka menginap.
Saat di taksi, Saniko bertanya kepada Nagaso.
“Na, kenapa kita cepat sekali ke sini?” tanya Saniko.
“Agar kita bisa berlatih serta berlibur di sini sementara. Kita dua minggu di sini!” kata Nagaso tersenyum. Dia mengeluarkan sebuah kotak yang baunya harum. Saat dibuka,
“Wow, cupcake, I love this!” teriak Saniko. Goshi dan Nagaso terkekeh.
“Aku rasa bluberi, Goshi rasa matcha, dan Saniko rasa stroberi!” ujar Nagaso sambil membagi-bagikan cupcake. Untuk Misha-sensei, Nagaso memberikan rasa taro.
Mereka telah sampai di hotel tempat mereka menginap. Mereka turun, lalu dengan tergesa menuju kamar mereka. Mereka segera tidur di kasur empuk. Sambil istirahat, Saniko membaca buku bertuliskan I Love In My Heart. Saniko senang sekali membaca buku itu. Goshi sedang asyik dengan tab-nya. Nagaso sedang asyik dengan tidurnya. Tiba-tiba, suara besar mengganggu aktivitas mereka.
“Suara apa itu?” tanya Nagaso.
“Pasti suara handphone-ku,” kata Saniko lalu mengangkat hp-nya.
“Hai Mama!” kata Saniko di telepon.
“Hai Saniko! Gimana? Sudah sampai? Menginap di mana?” tanya Mama.
“Sudah sampai, Ma, aku menginap di Ramadha by Whyndam Hotel.”
“Oh begitu, semoga bagus penampilannya ya. Good bye, Saniko!”
“Good bye, Mama!” kata Saniko sambil mengakhiri teleponnya.
“Dareka to Omotta (Aku kira siapa),” kata Nagaso.
“Sumimasen, Wakarimasen (Maaf, aku tidak tahu),” ujar Saniko malu.
“Itsu sensei ga yasumi o kyoka shite kuremasu ka? (Kapan guru memberikan izin liburan?)” tanya Goshi.
“Nanti kayaknya!” kata Saniko mengira-ngira.
Tok! Tok! Terdengar suara pintu. Saniko segera membuka pintu.
“Maaf, atas nama kamar No. 5 ya?” tanya seseorang yang mengetuk pintu dan rupanya, itu adalah petugas di hotel itu.
“Ya! Ada apa ya, Kak?” tanya Nagaso.
“Sebentar lagi, sudah jam makan. Nanti, berkumpullah di lantai bawah. Kalian duduk di meja No. 31,” kata petugas tersebut.
“Thanks, Kak!” kata Nagaso. Petugas tersebut mengangguk.
“Wah, sebentar lagi jam makan! Apa saja ya, menunya?” tanya Goshi sambil mengkhayal di pikirannya.
“Dasar Goshi!” kata Nagaso tersenyum lalu beralih wajah ke Saniko.
“San, tahu enggak? Aku dapat balasan dari teman laki-laki kamu! Senyum kamu manis banget, begitu komentar dia!”
“Apa? Banzoshy mengirim balasan dari hp-mu? Lalu kamu menyampaikannya ke aku? Wow! Amazing!” teriak Saniko senang. Banzoshy adalah nama teman laki-laki Saniko, dan Bandara El Banzoshy itu punya ayah Banzoshy.
Ting-tong! Bel makan berbunyi. Mereka turun dengan lift lalu sampai ke ruang bawah. Di sana, makanan tertata rapi, sangat indah. Minuman dan makanannya pun sangat menggoda. Mereka segera duduk di meja yang telah ditunjukkan.
Mereka mengambil garpu dan sendok lalu menyendok makanan mereka.
“Hmm! Yummy! It is yummy!” kata Saniko.
“Wah, hidup di hotel memang enak ya? Laksana di surga!” kata Goshi sambil menghabiskan makanannya, lalu dengan cepat meneguk minumnya.
“Ya, aku sampai sekarang ingin merasakan kehidupan di hotel! Aku pernah ke hotel saat masih kecil, tapi aku tidak lagi pernah menginap di hotel!” kata Nagaso tersenyum.
Selesai makan, mereka berganti baju. Mereka memakai baju renang. Mereka menuju kolam renang yang sangat luas.
“Wah, kolam ini berapa ya? Besar sekali! Pasti yang mengurus kolam ini sangat capek!” kata Goshi. Nagaso dan Saniko terkekeh.
“Ya, kan ada alatnya, tidak ada alat berarti tidak bisa dong! Terus, kan, yang kerjanya juga berganti-ganti,” kata Nagaso menjelaskan. Saniko mengangguk.
Byur! Mereka mulai masuk ke kolam. Mereka bermain dengan puas.
Setelah 1 jam berenang, mereka memutuskan untuk mandi dan beristirahat.
“Misha-sensei ke mana ya?” tanya Saniko.
“Lagi pergi mengunjungi sahabat penanya. Sahabat penanya di sini!” kata Nagaso.
“Sahabat penaku dari Kanada,” kata Saniko.
“Sahabat penaku dari Yaman,” ujar Goshi.
“Sahabat penaku dari Kamboja,” kata Nagaso menimpali.
Mereka tertawa dan tos bersama. Hari sudah malam. Semua sudah terlelap dalam mimpi. Begitupun ketiga sahabat ini.



Posting Komentar untuk "Pengalaman 3 Sahabat - Bab 2: Apa yang Kamu Dapatkan Itulah yang Kamu Usahakan"