Langkah Qiza dan Qiya – Bab 1: Persiapan Ulangan

Di pagi hari yang cerah, dimana udara berkabut masih memenuhi lingkungan sekitar, Qiza dan Qiya sudah bangun pagi dan mandi. 

Qiza dan Qiya adalah kembar identik. Rupa mereka sangatlah sama. Mulai dari wajah, bibir, rambut, sampai kulit. Hobi mereka juga sama. Qiya sangat bergantung kepada saudara kembarnya. Jika Qiza bernyanyi, maka Qiya ikut bernyanyi pula. Mereka adalah kembar yang sangat istimewa. 


Selesai mandi, mereka duduk di meja makan, menunggu sarapan yang sebentar lagi dihidangkan. 

"Qiza, aku sudah mempersiapkan latihan untuk ulangan Matematika! Apakah kamu juga sudah menyiapkannya?" tanya Qiya saat duduk di meja makan. 

"Belum! Aku tidak pintar Matematika. Aku susah sekali menangkap pelajaran Matematika itu. Tapi, aku bisa menjawabnya sebahagian saja jika soal itu sudah pernah kujawab sebelumnya" keluh Qiza memandang piring yang kosong. 

"Bagaimana kalau sepulang sekolah, kita latihan Matematika?" tawar Qiya yang memang sudah melihat kelemahan saudara kembarnya. 

"Boleh, aku setuju!" angguk Qiza senang. 

"Sarapan sudah siap!" seru Bunda. Qiza dan Qiya duduk di meja makan dengan penuh gembira. 

"Nasi goreng dan sandwich! Aku suka ini! Ini makanan terbaik yang pernah ada di hidupku!" seru Qiya bahagia. Dia melahap nasi gorengnya dengan penuh nikmat. 

Qiza mengambil sendok lalu menyuap nasi ke mulutnya. Dia melahap semua sarapannya dalam satu suapan. 

"Pelan-pelan makannya, Qiza! Jangan terburu-buru!" tegur Bunda. Baru saja di ingatkan, tiba-tiba saja, Qiza tersedak, 

"Kamu kenapa Qiza?" seru Qiya panik. Bunda yang melihatnya ikut panik. 

"Qiya, cepat ambilkan air minum!" seru Bunda berusaha membantu Qiza agar bisa bernapas kembali dengan normal. 

"Eh...iya Bunda!" seru Qiya. Dia segera mengambil gelas lalu mengisi gelas dengan air. 

Qiya kemudian kembali dengan segelas air. Dengan cepat, dia meminumkan air itu kepada Qiza. 

"Uhuk...uhuk! Akhirnya, aku bisa bernapas dengan lega" ujar Qiza terengah-engah. Mukanya pucat dan pipinya merah. 

"Makanya, lain kali jangan terburu-buru Qiza! Bunda sudah memperingatimu berkali-kali!" ujar Bunda. 

"Hehehe...iya, maaf Bunda!" ujar Qiza dengan malu. 

Setelah menghabiskan sarapan, Qiza dan Qiya memakai sepatu lalu berangkat ke sekolah. 

Jarak dari rumah Qiza dan Qiya ke sekolah adalah lima kilometer empat puluh lima menit. Qiza dan Qiya pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Mereka sudah terbiasa berjalan kaki seperti itu.
 
Sesampainya di sekolah, Qiza dan Qiya berjalan bersama di koridor kelas. Mereka berjalan dengan santai sembari berbincang ringan. 


"Jika aku memberimu pertanyaan Matematika, apakah kamu bisa menjawabnya?" tanya Qiza kepada Qiya. 

"Silahkan! Aku siap menjawab soal Matematika darimu!" seru Qiya dengan gembira. Qiya memang suka soal Matematika. Dan setiap ia menjawab pasti jawabannya selalu benar. 

"Empat dikali satu dibagi lima ditambah delapan dikurang sembilan! Berapa hasilnya?" tanya Qiza, berharap bahwa soal Matematika yang diberikannya tidak bisa di pecahkan oleh Qiya. Tetapi, kenyataannya, 

"Jawabannya adalah -0.2! Itu jawabannya!" seru Qiya bersemangat. Qiza yang mendengarnya takjub. 

"Wah, aku tidak tahu kalau kamu sepintar itu!" seru Qiza bertepuk tangan. 

"Terimakasih! Tapi, aku tidak jago pelajaran olahraga. Kamu yang paling ahli di bidang itu!" ujar Qiya menjelaskan dimana letak kelemahannya. 

"Semua dari kita mempunyai kelebihan dan kekurangan. Aku akan mengajarimu olahraga, kamu akan mengajariku Matematika. Jadi, kamu sangat ahli di bidang Matematika, dan aku sangat ahli di pelajaran olahraga" jelas Qiza, membuat Qiya mengangguk-angguk tanda mengerti.

Bersambung...


Posting Komentar untuk "Langkah Qiza dan Qiya – Bab 1: Persiapan Ulangan"